disuatu malam seorang pria pegantar pizza terlihat sedang berjalan menuju sebuah rumah,sepertinya itu adalah rumah dari si pemesan pizza.
pria itu kemudian memencet bell rumah, untuk segera memberikan pizza yang dipesan.
tak lama setelah itu, muncullah seekor kucing imut yang membukakan pintu. si penjual pizza ini kaget dan kemudian tak mengacuhkan kucing yang ada didepannya dengan tetap memanggil si tuan rumah agar segera membayar uang pesanan pizza nya
tak disangka ia dikagetkan lagi, karena segerombolan kucing muncul dari lantai atas, dengan membawa beberapa lembar uang di mulutnya untuk digunakan membayar pizza itu
pria ini pun berfikir, bahwa kucing kucing ini adalah kucing yang cerdas karena paham maksudnya terus menerus memanggil si tuan rumah yang tak kunjung muncul
segera ia pun memberikan kotak berisi pizza tersebut pada kucing kucing ini, dan sedikit kaget karena kucing kucing tersebut membanting pintu segera menutup rumah itu.
tak lama berselang ketika hendak pulang ia melihat ada anak kecil tersenyum melambaikan tangannya dari jendela lantai dua
dia pun berfikir bahwa anak tersebut sudah mengucapkan terima kasih karena pizza yang dipesan sudah sampai, dan segeralah pria ini meninggalkan rumah tersebut
kemudian tampaklah kucing kucing itu makan pizza dengan lahapnya, seperti kucing kucing yang memang sudah lama kelaparan,
lantas dimana si bocahnya? ternyata bocah yang melambaikan tangan itu ternyata telah tewas, ia dibunuh gerombolan kucing itu, dipenggal dan ditaruh di jendela.
seperti yang kita tahu, dan mungkin saja ini yang telah terjadi,
bahwa itu adalah anak kecil yang hobby nya suka menculik kucing, suka memukul,mencubit dan membuat kucing kucing merasa tidak nyaman, namun tidak pernah memberikan mereka makanan.
akhirnya si kucing pun balas dendam karena kelakuan bocah itu
Satu cerita dari seorang kawan bernama Parto, mas parto gitu ya panggilannya, Cerita ini terjadi di tempat tinggalnya di kota Jember, tahun 1989 silam, jadi ya sudah cukup lama kejadian ini.
pada saat itu mas parto nya ini masih duduk di bangku SD, cerita ini beliau dapatkan dari 2 orang saksi yang mengalami langsung, jadi ini bukan pengalaman mas parto pribadi, akan tetapi beberapa warga, utamanya 2 orang pegawai kebersihan di kantor dan kepala rumah dinas, karena pada saat itu berita kejadian ini memang cukup heboh di lingkungan tempat tinggal mas parto bersama kedua orang tuanya itu
ya, kejadiannya memang sudah cukup lama terjadi, tapi ingatan akan kejadian itu seakan tidak pernah hilang dari ingatan beliau.
ketika itu mas parto tinggal bersama orang tua di rumah dinas yang letaknya tepat di samping kantor, kedua orang tua mas parto ini kerja di sebuah PT yang tidak perlu kami sebutkan namanya ya, ini request dari beliau nya,
rumah dinas keluarga mas parto ini bisa dibilang rumah baru, kondisinya cukup asri dan nyaman, beberapa langkah dibelakang rumahnya terdapat rumah dinas kepala kantor, rumahnya cukup besar dengan arsitektur khas rumah bergaya belanda di masa lampau.
oke sebelumnya kami sampaikan bahwa kejadian horor ini tidak terjadi di rumah nya mas parto akan tetapi terjadi di rumah kepala kantor itu
nah, rumah tersebut dihuni oleh pak kepala kantor, beliau bernama pak Arya, beserta keluarganya, ditambah 1 asisten rumah tangga, gambaran tentang rumah tersebut itu bisa dibilang sangat klasik, benar2 masih terlihat original tanpa ada perubahan apapun dari bentuk awal rumah itu dibangun, hanya ditambah pagar besi, kamar mandi dan ruang dapur yang di perlebar, dan dibagian belakang rumah tersebut terdapat halaman luas, dan sebuah pohon besar , sebuah pohon beringin yang besar gitu, pohonnya cukup besar dan daunnya pun rimbun.
menurut cerita yang beredar dimasyarakat waktu itu, konon rumah tersebut dulunya memang di tinggali oleh seorang petinggi militer dari belanda, entah siapa dan apa pangkatnya masih tanda tanya, karena informasi masyarakat saat itu memang simpang siur, dan dirumah itu beliau "si petugas militer belanda" ini juga tinggal bersama seorang istri dan seorang anak perempuan berusia 7 tahun.
seiring berjalannya waktu, karena lama tak ditempati, maka beberapa bangunan di tempat itu pun berubah dan dialihfungsikan menjadi kantor dinas
nah singkat cerita begini. Hari itu kalau gak salah hari senin, kepala kantor yang bernama Pak Arya bersama keluarganya ini akan pergi keluar kota karena ada urusan keluarga di Banyuwangi dan katanya akan pergi selama 4 hari, selama dia diluar kota, dia meminta 2 orang cleaning service kantor untuk mengecat dan memperbaiki beberapa kamar dirumahnya dan sekaligus menjaga rumah tersebut selama pak djaya diluar kota.
dan berangkatlah pak Arya bersama keluarganya keluar kota, setelah memasrahkan atau menyerahkan keamanan rumah tersebut pada kedua orang karyawan cleaning service kantor itu.
oya sebelumnya, nama kedua orang ini adalah mas Pras dan Mas Ahmad
Malam hari pertama:
Jadi gini, sebuah kejadian ganjil pertama dialami oleh mas pras, Ketika itu keduanya sedang tidur dengan menggelar tikar seadanya gitu ya, yang mana posisi tempat tidurnya itu ada di dekat dapur dan menghadap langsung ke ruang tamu
Nah, jadi ceritanya sekitar pukul 02:00 salah seorang diantara mereka tiba tiba saja terbangun karena mendengar sesuatu, menurutnya itu suara yang berisik dan sangat mengganggu sampai membuatnya terbangun malam itu, dan ternyata suara itu berasal dari langkah sepatu seseorang, waktu itu dalam hati dia cuman bergumam,"jiangkrik, siapa sih malam gini mondar mandir disitu?"
dalam keadaan setengah sadar dia coba cari darimana asal suara tersebut, dan sontak dia kaget ternyata di ruang tamu ada sosok berbadan tegap dan tinggi dengan berpakaian militer belanda mondar mandir diruang tamu, menurutnya sosok itu tingginya sekitar 180cm, pokoknya sosoknya tinggi, namun terkesan sangat menyeramkan karena sosok yang berdiri mondar mandir itu tidak memiliki kepala!
mas pras pun kaget bukan main, lalu dia pun mencoba membangunkan temannya, tapi anehnya, semua badannya terasa kaku, bahkan untuk sekedar teriak pun dirinya tidak sanggup..., entah dia pingsan ketakutan atau gimana, sampai tiba2 dia terbangun dengan waktu yang sudah pagi
jadi setelah bangun pagi, mas prasnya ini menceritakan pengalaman yang menyeramkan malam itu, yah tapi awalnya malah ia diketawain sama kawannya yang bernama mas ahmad ini Selanjutnya Malam kedua :
Singkat cerita waktu itu Jam dinding menunjukan pukul 8 malam, mereka berdua mas pras dan mas ahmad, masih asik ngobrol sambil ngopi2 diteras rumah itu, ngobrol ngalor ngidul gitu lah, sambil sesekali nyruput kopi, nah beberapa saat berlalu ditengah obrolan, tiba2 sayup sayup itu terdengar suara lantunan suara biola yang entah darimana datangnya, keduanya heran dan juga bingung dong waktu itu, dn karena merasa ada yang aneh lalu kedua orang itu mencoba mencari sumber suara biola tersebut, lama dicari nggak ketemu ketemu darimana sumber suara itu, dan justeru tidak lama kemudian suara tersebut malahan menghilang...
karena kebingungan, sudah mencari kemana mana gak ketemu, yang ada malah jadi capek dan rasa kantuk mulai menyerang, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam rumah dinas dan tidur,
kira kira jam 12.30 malam, suara biola itu kembali muncul, dan kali ini cukup keras suaranya terdengar, nah, mas pras dan mas ahmad yang terganggu tidurnya itupun akhirnya terbangun.
sampir ngucek matanya mas pras ini bertanya "denger suara itu lagi gak?"
"ya denger lah ,memangnya aku budek apa?" jawab mas ahmad yang waktu itu juga terbangun
tanpa pikir panjang kedua cleaning service itupun langsung mencari darimana asal suara itu muncul, tidak lama pencarian, ternyata hasil suara biola tersebut sepertinya berasal dari dalam tembok dibelakang dapur yang sudah lama tidak terpakai, yang posisinya tepat dibelakang rumah dekat pohon besar itu..., dan pencarian pun mereka putuskan untuk dilanjutkan keesokan harinya
kemudian di Pagi harinya, mas pras dan mas ahmad yang penasaran itu, mencoba membongkar tembok di dapur yang lama tak terpakai itu, dan merekapun dikagetkan dengan ditemukannya sebuah biola kuno dengan keadaan yang kurang baik dan penuh debu...
aneh dan bikin penasaran, kenapa bisa ada biola kuno disana? dengan penuh tanda tanya yang tak terjawab mereka pikir nanti saja laporkan ke pak kepala kantor biar bisa dipastikan itu biola siapa...
kemudian mereka pun meninggalkan tempat itu dan melanjutkan pekerjaannya, dan singkatnya hari pun berganti malam, nah Lagi2 ketika mereka berdua posisinya waktu itu sudah tertidur karena lelah bekerja, waktu itu sekitar jam 11:00 malam mereka berdua ini kaget dan terbangun karena ada suara yang cukup mengganggu, yaitu samar2 suara nyanyian dari anak kecil... masih dalam keadaan setengah sadar mereka coba menerka suara itu dari mana datangnya, TIBA-TIBA MUNCUL SOSOK YANG MENAKUTKAN DARI KAMAR TIDUR UTAMA!!
viool.....viool....viool....viool!!! kata mereka berdua, sosok itu mengeluarkan suara seperti itu
Ya!,sosok menyeramkan tersebut mengatakan VIOOL!! VIOOL!! VIOOL!!
Dengan ketakutan yang luar biasa keduanya mencoba lari, tapi kaki mereka waktu itu terasa sama sekali tidak bisa digerakkan, entah karena saking takutnya atau gimana, mulut mereka juga jadi kaku dan keduanya waktu itu hanya bisa berdoa dalam hati...
Kemudian mereka tersadar ketika hari sudah menjelang pagi,...mungkin saja mereka berdua pingsan waktu malam kejadian itu, setelah bangun dan bersih bersih lalu beberapa jam kemudian datanglah mobil pak arya kepala kantor bersama keluarga yang baru dari keperluan di Banyuwangi
Kedua cleaning service itupun kemudian menceritakan pengalaman menyeramkannya dirumah itu,
karena selama ini keluarga pak arya sudah lama menempati rumah tersebut dan mereka tak pernah mengalami hal hal ganjik semacam itu, maka pak arya pun masih dalam posisi tidak percaya dengan penuturan kedua cleaning service tersebut, namun mendengar cerita itu walaupun jelas beliau tidak percaya dengan cerita itu kepala kantor itu merasa ada sesuatu yang menarik untuk diselidiki, beliau pun mengajak bapaknya mas parto untuk kemudian mencoba mencari informasi kepada beberapa sesepuh di daerah itu,
dan ternyata Menurut sesepuh yang paham soal rumah itu, memang dikatakan jika dahulunya pada tahun 1930 rumah tersebut pernah dihuni oleh seorang petinggi militer belanda yang cukup terpandang dan sangat bersahabat dengan kaum pribumi,
dia memiliki 1 istri dan seorang anak perempuannya,anak perempuan ini memang dikenal sangat suka bermain biola, kalo ada jamuan dengan perangkat desa dll biasanya si anak ini suka unjuk kebolehan di depan para tamu, menurut sesepuh itu, si anak ini adalah anak yang aktif dan mudah bergaul, dia anak yang sangat supel dan lincah.
kemudian, masih menurut mbah selo, sesepuh desa itu, ada sebuah kejadian perampokan di Tahun 1930an, kurang lebih kejadian itu terjadi di rumah petinggi militer belanda itu pada Pukul 8 malam, tanpa disangka2, terjadi sebuah perampokan oleh beberapa kelompok orang yang menggunakan tutup muka ke rumah petinggi belanda tersebut,4 penjaga rumah dibunuh dengan sadis menggunakan clurit dan pedang,
karena mendengar keributan diluar rumah, sang pemilik rumah langsung menyuruh istrinya untuk bersembunyi, lalu sang istri segera menyuruh sang gadis sembunyi ditempat khusus yang sudah disiapkan, yaitu sebuah ruangan khusus tersembunyi di balik tembok tebal di belakang dapur.
setelah putrinya dirasa sudah aman, lalu sang istri kembali kedalam rumah,tapi ternyata perampok sudah berada didalam rumah dan suaminya juga sudah tewas dengan kepala terpisah dari badan, dan akhirnya sang istri pun ikut dibunuh perampok tersebut dengan cara sangat amat sadis.
Sementara itu, anak gadisnya itu sendirian terkunci di dalam ruang persembunyian tersebut dan akhirnya ikut tewas karena kelaparan dan kekurangan udara, dan singkat cerita jasad si gadis yang sudah berupa tulang belulang itu pun baru ditemukan dan dievakuasi 20 tahun kemudian setelah kejadian, itupun secara tidak sengaja ketika proses renovasi ulang rumah tersebut.
dan masih menurut mbah selo, bisa jadi itu bukanlah arwah keluarga belanda yang meninggal tak wajar dikala itu, namun itu lebih pada kembaran alias fotokopian mereka dari alam dimensi lain, yang mencoba memperkenalkan dirinya dan kejadian tragis yang pernah ada sebelumnya, hal itu karena pak arya yang sudah lama tinggal disana pun tak pernah mengalami hal tersebut, tentunya mahluk halus serupa jin yang ada ditempat itu juga memahami bahwa pak arya dan keluarganya bukanlah orang baru ditempat itu.
nah, cerita dari kedua orang karyawan itu, dan penjelasan dari sesepuh desa itu, diceritakan langsung oleh bapaknya mas parto kepada mas parto kecil waktu itu, dan sejak saat itu memang walaupun sampai sekarang dia belum pernah samasekai bertemu dengan sosok hantu keluarga belanda itu, namun karena posisi rumahnya yang tidak jauh dari rumah kepala dinas, memang dulunya dia sering bergidikketakutan ketika tiba tiba mendengar suara biola dari dalam kamarnya waktu lewat tengah malam.
Cerita ini bermula dari pengalaman horror seorang Mahasiswa baru asal Cirebon yang baru diterima di salah satu perguruan tinggi di kota Bandung. Sebut saja namanya adalah Mira, waktu itu dia masih menjadi Maba alias mahasiswa baru, dan ketika itu dia menempati salah satu tempat kost di Bandung, Mira ini mengaku ia diganggu sosok laki-laki dikos-kosan yang baru saja ia tempati itu.
Setelah diterima di salah satu perguruan tinggi di kota Bandung, Mira pun akhirnya pergi ke Kota Kembang itu dan menjadi anak rantau tinggal di sebuah rumah kost.
Mira memilih Kos yang tidak biasa, tempat itu tidak seperti kos kosan pada umumnya.
Kosan yang ditempati Mira itu adalah sebuah rumah milik suami istri yang sudah renta dengan panggilan Kakung dan Uti, serta tukang bersih-bersih bernama Kang Yana.
Rumah itu memiliki empat ruang kamar yakni kamar Kakung dan Uti, dan tiga kamar kosong bekas kamar anak-anaknya yang sudah tidak dipakai, nah kamar kamar itulah yang kemudian dijadikan kamar kos.
Mira menempati kamar kosong tersebut dan masih tersisa dua kamar lagi. Mira memilih kosan itu dengan alasan rumah itu terlihat bersih dan harganya tergolong murah.
Memang diawal dia menempati kosan itu, segala sesuatunya tampak biasa biasa saja dan semua berjalan baik-baik saja. Hingga pada suatu hari Kakung dan Uti bilang bahwa mereka akan keluar kota untuk menjenguk anak mereka di Sukabumi, kurang lebih selama seminggu.
Setelah Kakung dan Uti, sebutan pemilik kost disana, pergi, Sejak siang Mira ini sudah merasa kesepian dan cemas, ditambah lagi Mira waktu itu datang bulan di hari pertama.
Di malam harinya, waktu itu sekitar pukul 10 malam, Ketika Mira hendak menyeduh teh di dapur, tiba-tiba terdengar suara dari seorang laki-laki,
"Mira lagi apa?"
Mira pun "dengan reflek" kemudian menjawab."Bikin teh kang,"
Namun saat Mira melihat ke belakang, anehnya, dia tidak melihat siapa-siapa. Mbak Mira ini berusaha berpikir positif waktu itu.
dalam benaknya "Mungkin yang tadi bertanya kepadanya adalah kang Yana, tukang bersih-bersih di rumah itu."
Namun kemudian Saat hendak ke kamar dan melewati ruang tamu, tiba tiba saja tampak sosok seperti seorang bapak-bapak sedang duduk menghadap televisi dengan posisi membelakangi Mira.
Seketika suasana pun jadi mencekam, namun Mira ini tetap berusaha untuk tidak berpikir yang aneh aneh, ia tetap berusaha berfikir positif pada waktu itu.
"Mungkin saja yang dilihatnya tadi itu adalah salah satu anak dari Uti pemilik kosan ini."
Memang setahu Mira, Kakung dan Uti ini diketahui memiliki tiga orang anak yang memang sudah berkeluarga dan semuanya merantau.
Keesokan paginya, Seperti biasa kang Yana datang untuk bersih-bersih. Mira pun bergegas bertanya siapa sosok laki laki yang dijumpainya di depan televisi di ruang tengah rumah tersebut.
Keduanya sempat mengobrol agak lama, beberapa saat kemudian Kang Yana pergi sebentar mengambilkan foto keluarga, dan dia pun langsung menunjukkan foto keluarga Kakung dan Uti beserta ketiga anaknya.
Dan benar saja sosok laki-laki yang dilihatnya tadi ternyata ada di foto tersebut.
"yang ini neng" tanya kang Yana
"Bukan, bukan yang itu kang, tapi yang tengah itu tuh, semalam dia duduk di ruang tamu dan dia juga masuk ke kamar mandi, Saya tungguin kang mau saya sapa gak keluar keluar, sampai pada akhirnya ya saya tinggal ke kamar saja".
Apa itu anaknya Uti juga ya kang?" tanya Mira.
Kang Yana kemudian berkata :
"Neng salah lihat kali, gak mungkin mah kalo yang ini. ini kan Almarhum kang Hendra, dia itu sudah lama meninggal," jawab kang Yana.
Mendengar itu Mira menjadi merinding. Perasaannya menjadi tak karuan. Dia benar benar masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya semalam itu.
Untuk memastikan bahwa Mira salah lihat, Kang Yana menemani Mira mengetuk pintu kamar mandi, ternyata pintunya tidak dikunci dan Setelah dibuka ternyata tidak ada siapa-siapa disana. Kang Yana juga mengajak Mira berkeliling menunjukkan Mira kamar kamar lain yang dulunya ditempati anak anak dari kakung dan Uti, semuanya kosong. Hal ini justeru malah membuat Mira pun semakin bingung dan juga merasa takut tinggal di kosan itu.
Peristiwa malam itu benar-benar membuat mira jadi ketakutan, dan di pagi itu juga mira akhirnya mengemasi barang barangnya, dia memutuskan untuk pindah kost di kosan yang ditempati salah satu teman kuliah nya, dan seminggu kemudian datang lagi ke kost itu hanya untuk berpamitan dengan kakung dan Uti,pemilik rumah kost tersebut.
inilah peristiwa horror yang dialami oleh mira untuk pertama dan terakhir kalinya, bahkan sampai detik ini, menurutnya, dia benar benar masih belum bisa melupakan peristiwa menyeramkan itu
Masyarakat Indonesia memang tak pernah bisa lepas dari
yang namanya cerita horor.
Ada banyak sekali kisah, juga pengalaman horor yang
dibagikan oleh masarakatnya baik secara turun temurun, dari mulut kemulut, bahkan
cerita kisah di media sosial.
Tak jarang cerita horor tersebut pun mengundang perasaan
takut tersendiri bagi orang orang yang menyimaknya.
Entah kisah nyata atau hanya sekedar fiksi, banyak
pembaca yang merasa terbawa bahkan terhanyu dan ikut merasakan situasi dan
kondisi yang terjadi di dalam cerita atau pengalaman horror tersebut.
Seperti sebuah cerita mistis yang dibagikan di sebuah
media social,Twitter. Cerita yang terinspirasi dari kisah nyata seseorang yang
ingin dirahasiakan namanya ini, cerita horror ini dikenal dengan cerita ‘ hantu Ibu dan Bayi’
Kejadian bermula ketika, seorang pria sebut saja namanya
Krisna, yang bekerja sebagai sales di salah satu perusahaan rokok terbesar di
Indonesia, waktu itu ia baru saja mendapatkan bonus dari kantornya.
Ia mendapatkan bonus karena berhasil mencapai target yang
telah ditetapkan perusahaan.
Berhubung bonus itu terbilang lumayan, ia pun berencana
untuk membeli sebuah mobil.
Krisna saat itu tengah memiliki seorang istri yang sedang
hamil muda.
Karena ingin memanjakan istri yang memang hamil muda, ia
pun membeli sebuah mobil dengan harga yang pas di kantong, ia berencana untuk
membeli sebuah mobil dengan kondisi bekas, agar bisa lebih murah dan dapat
dibayar dengan cash.
Singkat cerita, Krisna menemukan mobil yang pas di hati
dan budget, yakni sebuah mobil grand Livina berwarna abu-abu.
Krisna membeli mobil tersebut dari seorang bapak-bapak
yang waktu itu sedang membutuhkan uang.
Karena dirasa cocok dan pas, akhirnya Krisna bersepakat
dengan bapak tersebut.
Awal mobil tersebut datang ke rumah pasangan baru tersebut,
mereka berdua , mas krisna dan istrinya’ ini merasa sangat senang sekali.
Mereka jadi bisa leluasa pergi ke mana saja dengan mobil
sendiri tanpa memakai mobil kantor.
Namun, baru beberapa hari di rumah, mobil ini kok tiba
tiba selalu tercium bau amis.
Iya, bau amis darah.
Mereka selalu mencoba mencari-cari di sela-sela mobil
untuk mengetahui sumber dari bau amis tersebut.
Yang ditakutkan justru ada binatang yang mati dan bangkainya
mengeluarkan darah.
tapi, semua itu tak membuahkan hasil, karena memang sudah
dicari dan tak ada satu pun binatang yang mati didalam mobil.
Dan anehnya, Bau amis darah itu semakin menyengat ketika
sore, lebih tepatnya menjelang malam hari.
Krisna pun sering membawa mobilnya ke tempat cucian mobil
dan meminta untuk diberikan pewangi yang lebih banyak.
Namun tetap saja bau amis itu masih tercium ketika sudah
sampai di rumah.
Selain itu, jika mereka sedang mengendarai mobil di malam
hari selalu saja terdengar suara tangisan bayi, meski suaranya samar-samar.
Hingga akhirnya, Krisna berencana membawa mobil itu ke ustadz
atau kepada seseorang yang tau menyelesaikan permasalahan mobil itu.
Karena menurutnya ini bukanlah permasalahan yang biasa
terjadi. Tapi karena kesibukan pekerjaan, akhirnya rencana ke paranormal itu
selalu di undur-undur.
Ia sempat bertatap-tatapan sesaat, hingga akhirnya Krisna
harus menginjak rem mobilnya dengan mendadak.
Sontak, Krisna yang ketakutan langsung keluar dari dalam
mobil.
Tapi karena waktu masih tengah malam, di luar pun sangat
sepi sekali hampir tak ada orang. Berkali-kali Krisna membaca doa dengan apa
yang ia lihat.
Dan ketika ia lihat lagi dari luar, di jok belakang mobil
kosong alias tak ada siapa-siapa.
Meski jarak rumah sudah semakin dekat, tetap saja ia
bingung harus melanjutkan dengan mengenakan mobil tersebut atau tidak.
Setelah menenangkan diri sejenak, Krisna akhirnya
memutuskan pulang dengan mengendarai mobil, sebelum masuk tak lupa ia membaca
ayat kursi terlebih dahulu.
Ketika memasuki mobil, Krisna melirik sekitar dalam mobil
untuk memastikan tak ada siapa-siapa di belakang jok mobil. Dan memang kosong.
Saat beberapa meter melaju, sosok perempuan pucat yang
menggendong bayi itu muncul lagi di belakang Krisna.
Bau amis bahkan semakin menyengat dari yang biasanya.
Sontak, ia langsung membaca ayat kursi dengan diteriakan.
Karena Krisna baru pertama kali melihat hantu itu, ia
menyetir sambil gemetar dan bahkan ia hampir menangis.
eringat panas dingin keluar di sekujur tubuhnya.
Dengan kekuatan gas yang luar biasa, ia langsung
memarkirkan mobil tersebut di depan rumahnya tanpa di masukan ke garasi.
Sesampai di dalam rumah, keringat dingin terus mengucur
di tubuhnya.
Ia mencoba langsung tidur tapi tak bisa karena terus
dibayangi hantu gentayangan itu.
Keesokan harinya, Krisna langsung demam tinggi sehingga
istrinya pun bingung ketika suaminya harus pulang dengan buru-buru dan
memarkirkan mobil dengan sembarangan.
Krisna tak berani cerita karena istrinya yang sedang
hamil muda. Ia takut jika istrinya nanti kepikiran sehingga Krisna beralasan
ingin tidur lebih cepat karena ngantuk semalam itu.
Setelah sembuh beberapa hari sakit, Krisna masih trauma
untuk menaiki mobil itu
Karena bau amis masih terasa ia memutuskan untuk
membawanya ke kiai yang bisa mencari solusi permasalahan itu. Krisna ditemani
temannya untuk pergi ke kediaman pak kiai pada sore hari.
Tapi sosok hantu gentayangan itu muncul dengan tiba-tiba
di belakang jok.
Karena kaget, Krisna akhirnya tak bisa mengendalikan
mobil tersebut dan akhirnya kecelakaan masuk ke dalam jurang.
Meski begitu, keduanya masih bisa selamat dan hanya mengalami
luka lecet di tangan.
Krisna segera meminta bantuan saudaranya untuk
menginformasikan kondisinya itu.
Tak begitu lama banyak warga yang melintas menolong
Krisna dan temannya untuk ditenangkan.
Menurut warga sekitar tempat itu memang sering terjadi
kecelakaan tunggal dan Krisna adalah salah satunya.
Entah karena apa. Tapi Krisna tidak cerita bahwa ia
kecelakaan karena melihat penampakaan di jok belakang mobilnya.
Kemudian mobil derek datang dan membawa mobilnya.
Krisna pun dijemput oleh saudaranya. Dan selama di mobil
saudara membahas kenapa ia bisa kecelakaan disana.
Dirinya juga tanya temannya, apa dia melihat sosok
penampakan di jok belakang mobil.
Tapi katanya dia tidak melihatnya. Malah dia heran kenapa
Krisna tiba-tiba kaget dan banting stir.
Krisna pun jadi heran, mengapa hanya dirinya saja yang
bisa melihat penampakkan wanita itu?
Setelah ia dan temannya diobati di RS, mereka pun
langsung pulang.
Krisna benar-benar kepikiran dengan mobil itu, hingga
akhirnya ia memutuskan untuk secepatnya bertemu dengan seseorang bernama kiai
Muhis.
Dengan menggunakan mobilnya, ia akhirnya sampai di tempat
kiai Muhis.
Beliau langsung mempersilahkan krisna masuk. Dan tanpa
basa-basi Krisna pun langsung menceritakan kejadian demi kejadian yang dia dialami.
Kiai Muhis sebetulnya ingin mengecek langsung ke
mobilnya, tapi berhubung mobilnya masih di bengkel jadi diurungkan.
Kiai Muhis bilang, bahwa jika ada suatu benda yang dihuni
makhluk halus, maka bisa jadi sebelumnya ada kejadian yang behubungan dengan
makhluk halus tersebut.
Jadi, ia disarankan untuk menemui pemilik mobil ini
sebelumnya.
Sebelum pulang, krisna pun diberi beberapa botol air doa
agar lebih tenang.
Esok harinya sepulang Krisna dari kerja, ia pun langsung
menemui pemilik mobil ini sebelumnya. Sebut saja namanya pak Yahya.
Dirinya mengutarakan maksud kedatangan dan menceritakan
beberapa kejadian yang menimpa Krisna terkait mobil itu dan pak Yahya kaget.
Selama beliau memakai mobil itu, beliau tidak pernah
merasakan atau menemui keanehan, apalagi sampai melihat penampakan.
Beliau juga tidak pernah berlaku dan berbuat suatu hal
yang janggal terhadap mobilnya sampai mobilnya dihuni makhluk halus tersebut.
Karena tak menangkap kebohongan dari pernyataan pak
Yahya.
Krisna jadi buntu, kenapa mobil yang dibelinya ada
penunggunya.
Setelah ngobrol panjang lebar akhirnya ia pun pamit dan
pak Yahya memberikan saran kalau mobilnya harus dibersihkan dari makhluk tak
kasat mata.
Pak Yahya pun setuju, beberapa hari setelah itu mereka
pun langsung datang ke bengkel dan di sore hari.
Setelah bengkel tutup, mereka berdua , krisna dan
temannya, kemudian meminta izin pada pemilik bengkel bahwa akan melakukan semacam
ritual pembersihan aura negative yang dicurigai berada pada mobil itu.
Tak lama berselang, Pak Yahya datang bersama seorang pria
setengah baya memakai baju Koko dan sorban. Beliau mengenalkan diri sebagai pak
Hadi yang akan melakukan pembersihan itu.
Mereka pun memulainya. Disana selain ada Krisna dan
kawannya, pak Yahya dan pak Hadi, ada juga pemilik bengkel dan beberapa
karyawannya.
Mobil ini dimandikan dengan air yang menurut penuturannya
sudah di bacakan doa.
Semua bagian mobil baik dalam dan luar dipercikkan air
dan pak Hadi berdoa dari dalam mobil.
Ketika pak Hadi sedang berdoa di dalam mobil, ada salah
satu karyawan bengkel ada yang kesurupan.
Dia langsung terjatuh begitu saja dan tiba-tiba berteriak
"Jangan usir kami..."
"Jangan usir kami..."
Sontak, orang-orang yang ada di sana semuanya merasa kaget
dan takut.
Pak Hadi langsung keluar dari mobil dan langsung memegang
ubun-ubun orang yang kesurupan tadi.
Beliau langsung bertanya
"ini siapa"
"Saya Reni..."
"Kamu yang ada didalam mobil ini?"
"Iya..." Katanya sambil menangis
"Kenapa kamu
tingga dimobil?"
"Karena saya meninggal disana bersama bayi
saya" jawabnya.
Orang yang kesurupan itu malah menangis dan menyebut nama
Doni.
Entah siapa Doni itu, Krisna tidak kenal, tapi raut muka
pak Yahya jadi berubah.
Beliau seperti kaget dan gugup. Entahlah
Krisna pun bertanya pada pak Yahya...
"Bapak kenal dengan yang namanya Doni?"
"Itu anak saya..." Ujar pak Yahya dengan muka
pucat pasi.
Ternyata pak Yahya punya anak namanya Doni yang masih
sekolah SMA kelas 3. Dan Krisna pun kaget dibuatnya.
Sedangkan sosok yang menyerupai arwah Reni ini tidak mau disuruh meninggalkan
mobil tersebut, Dia malah menangis dan terus menangis.
Pak Hadi yang berusaha untuk mengusir makhluk halus itu,
namun sepertinya beliau kewalahan. dan Beliau terlihat capek sekali waktu itu.
Krisna dan pak Yahya akhirnya mengambil keputusan untuk
mencari tahu dari Doni.
Mungkin Doni tahu sesuatu seseorang yang bernama Sosokhantu yang mengaku dan menyerupai mendiang yang bernama Reni ini. Akhirnya
mereka pun menyudahi acara ruwat mobil itu.
Ia langsung ikut pak Yahya pulang ke rumah beliau untuk
bertemu dengan puteranya yang bernama Doni. Dan secara Kebetulan Doni juga sedang
ada dirumah, jadinya mereka bisa langsung bertanya padanya.
Dan tanpa diduga Ketika mereka menanyakan nama Reni pada
Doni, reaksi Doni langsung kaget dan pucat pasi.
Pak Yahya langsung curiga melihat reaksi Doni. Krisna pun
begitu. Jadi mereka desak Doni untuk menceritakan siapa sosok Reni ini
sebetulnya.
Ternyata Reni ini dulunya adalah pacar Doni. Mereka sudah
berpacaran cukup lama dan gaya berpacaran mereka sudah lebih dari sekedar
hubungan saling mengenal
Pacaran mereka sudah melewati batas dan akhirnya Reni
hamil.
Awalnya Doni bersedia bertanggung-jawab atas kehamilan
Reni. Tapi Doni berjanji akan menikahi Reniini jika sudah lulus ujian SMA.
Dan Reni pun menyanggupinya. Walaupun Reni harus menunggu
dan menutupi perut buncitnya dulu.
Tapi malam itu Reni minta tolong pada Doni bahwa dia
merasakan mulas. Dia sepertinya akan melahirkan. Jadi minta tolong Doni untuk
menjemputnya.
Doni pun menjemput Reni kerumahnya dan rencananya akan
mengantar Reni ke klinik bersalin.
Doni menjemput Reni menggunakan mobil yang saat itu masih
milik ayahnya.
Sebelumnya, Reni ini hanya tinggal bersama ayahnya. Sedangkan
ibunya sudah meninggal.
Jadi karena ayahnya sibuk bekerja, dia tidak sadar dengan
perubahan fisik anaknya.
Reni pun sedemikian rupa menutupi kehamilannya selama di
sekolah supaya tidak ada yang curiga.
Selama di perjalanan menuju klinik, Reni merasakan sakit,
ia merasakan mulas di perutnya.
Doni dan Reni pun panik, mereka tidak tahu harus berbuat
apa.
Tapi tiba-tiba pikiran jahat berkelebat di pikiran Doni.
Dia langsung membekap mulut Reni sampai Reni kehabisan napas.
Reni pun meninggal saat itu juga sedangkan bayinya waktu itu masih hidup.
Bayinya laki-laki, namun karena setan sudah menguasai
pikiran Doni, maka Bayi tidak berdosa itu pun menjadi korban kebiadaban Doni.
Karena takut perbuatannya diketahui oleh orang lain, maka
Doni membuang Jasad Reni di jurang di suatu tempat, pada malam itu juga.
Doni merasa perbuatannya aman-aman saja dan karena dia
yakin bahwa tidak ada sorangpun yang bakalan mengetahuinya.
Ketika mendengar cerita lengkap dari Doni anaknya, pak
Yahya langsung emosi dan memukul Doni.
Dia langsung bersumpah bahwa Doni harus
mempertanggungjawabkan perbuatannya, saat itu Doni langsung sujud di kaki
ayahnya.
Doni mengaku salah dan khilaf.
Krisna pun yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng
kepala. Bahwa pergaulan anak muda zaman sekarang memang benar-benar sudah
diluar batas.
Mereka tidak memikirkan risiko atas perbuatan mereka.
Pak Yahya pun mendesak Doni untuk menunjukan dimana dia
membuang jasad Reni.
Keesokan harinya setelah mereka laporan ke polsek
terdekat dan ditemani beberapa anggota kepolisian dan langsung menuju jurang
dan dimaksud oleh Doni.
Ternyata jurang yang dimaksud Doni adalah jurang dimana
tempat Krisna kecelakaan.
Mungkin di kecelakaan Krisna kemarin, Perwujudan hantu Reni
ini ingin menunjukkan menunjukkan jasad dirinya padanya. Mungkin ini adalah
Qorin nya
Tapi waktu itu dia tidak melihat sekeliling Ternyata,jasad Reni ditemukan sudah membusuk saat itu juga beserta jasad bayi yang
dilahirkannya.
Mereka ditemukan tertutup daun-daun kering di dasar
jurang.
Begitulah jika setan sudah merasuki jiwa seseorang.
Untuk menutupi kesalahannya dia melakukan kesalahan lain
yang lebih fatal, akhirnya karena terbukti bersalah, Doni pun dipenjara untuk
mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sedangkan pak Yahya harus ganti rugi mengembalikan uang
pembelian mobil kepada krisna, dan sampai saat terkadang hantu perwujudan dari
arwah Reni ini masih muncul dari dalam mobil itu.
Menurut forensic, Kejadian pembunuhan Reni itu terjadi kurang
lebih seminggu sebelum mobil itu Krisna beli.
Jadi mungkin wajar saja jika pak Yahya tidak merasakan
keganjilan seperti yang dia rasakan.
Cerita ini hanya Krisna saja yang tahu dan ia sengaja tak
memberitahu istrinya karena dia tahu bahwa istrinya itu sangat penakut.
Pasar Tanah Abang terkenal hingga seantero Indonesia sebagai tempat terbesar penjual pakaian. Siapa yang menyangka jika Pasar Tanah Abang memiliki kisah horor di dalamnya.
Kejadian tak mengenakan itu dialami seorang perempuan bernama Dewi pada pertengahan Ramadan. Saat itu, dia dan temannya berkunjung ke sebuah pusat grosir di dekat Tanah Abang untuk berbelanja batik.
Dewi dan temannya parkir di gedung parkir lantai agak atas, karena memang parkiran saat itu lumayan penuh orang yang berbelanja kebutuhan hari raya. Mereka tiba di pusat perbelanjaan tersebut sekira pukul 13.00 WIB, lalu berkeliling belanja sambil menunggu azan Magrib. Rencananya selepas berbuka puasa, baru mereka akan pulang.
Saat azan Magrib berkumandang, Dewi dan temannya berbuka di area luar pasar. Setelah selesai makan mereka berdua salat maghrib dan kembali ke pasar untuk mengambil kendaraan.
“Sekira pukul 19.00 WIB barulah kami kembali ke dalam mal. Alangkah kagetnya kami suasana mal sudah berubah jauh lebih sepi. Tadi siang hiruk pikuk penuh orang tiba-tiba sekarang sudah sepi, tinggal para pedagang sedang merapikan barang dagangannya dan menutup kios mereka,” kata Dewi
Mereka bergegas mengambil mobil yang berada di lantai 5. Semakin naik, suasana yang ada di lantai itu semakin menakutkan karena sudah banyak toko yang tutup dan lampu di selasar pasar sudah banyak yang dimatikan.
Tiba di lantai 5, mereka kebingungan mencari jalan keluar menuju tempat parkir mobil karena pusat perbelanjaan itu memang besar dan berkelok-kelok.
“Kami menghafalkan jalan berpatokan dari nama toko yang kami lalui. Sekarang toko-tokonya sudah tutup dan karena bentuknya penuh lorong seperti ITC, kami sudah tidak tahu lagi lorong yang mana yang kami lalui,” katanya.
Suasana di lantai 5 itu sudah sangat gelap, tidak ada kios yang buka, hanya mengandalkan cahaya dari tengah-tengah mall. Tidak ada satpam dan satu orang pun.
“Saya dan teman saya sama-sama baru pertama kali ke tempat ini. Kami sama bingungnya. Di tengah kepanikan, kami melihat ada berkas sinar cahaya dari toko yang masih buka di salah satu selasar. Segera kami menuju ke sana,” ujarnya.
Rupanya masih ada satu kios yang masih beres-beres barangnya terbukti dari pintu rolling door nya yang masih terbuka setengah. Pemiliknya adalah seorang bapak, ibu dan kedua anak kecil sekitar 2 dan 5 tahun. Mereka masih merapikan barang dagangan dan mendorong etalase masuk ke kios.
“Kami bertanya arah pintu keluar menuju parkiran. Bapak pemilik kios dengan ramahnya memberikan petunjuk ‘Dari sini lurus saja lalu belokan pertama, kedua dan ketiga lurus saja, baru belok kiri sampai mentok nanti akan ketemu pintunya’ Kira-kira begitu petunjuknya.”
Dewi dan temannya merasa lega karena ada yang menolong mereka. Tak lupa, mereka mengucapkan terima kasih dan segera berjalan. Baru sekira sepuluh langkah, Dewi merasa kebingungan dan bertanya ke temannya tentang arah yang dimaksud oleh bapak tadi. Teman Dewi juga kebingungan dan mengajak Dewi untuk Kembali dan bertanya kepada bapak tadi.
“Kami balik badan dan melongo. Selasar di belakang kami gelap gulita. Tidak ada orang. Tidak ada kios yang tadi masih setengah buka. Tidak ada jejak langkah. Tidak ada apapun. Kami menjerit dan langsung berlari ke arah yang tadi diberitahu. Saya tidak ingat lagi kami belok di tikungan mana, yang jelas kami menemukan pintu keluar ke parkiran dan langsung masuk mobil. Teman saya langsung tancap gas menuruni parkiran.”
“Kejadian ini kira-kira 7 tahun lalu dan sejak saat itu, saya belum pernah kembali ke pusat perbelanjaan itu lagi. Entah siapa atau apa yang kami lihat malam itu, tapi siapapun/apapun itu, dia memberikan petunjuk arah yang benar dan tidak menyesatkan,” tuturnya.
Kisah Misteri Rumah Sakit Pria Ini Ditemani Makhluk Halus
Kakek Penunggu Pasien dan Pasien Hantu
Rumah sakit, adalah tempat orang sakit yang mengusahakan
kesembuhan agar bisa segera pulih dan sehat wal afiat. Tidak jarang, setiap
hari rumah sakit selalu penuh oleh pasien yang berjuang mengikhtiarkan
kesembuhannya. Namun bagaimana, jika rumah sakit tempat yang seharusnya
berfungsi sebagai sarana kesembuhan malah menjadi sarang atau tempat yang
dihuni oleh mahkluk tak kasat mata?
Seperti kisah nyata yang dialami oleh seorang warga yang
sebut saja bernama Galih, ia menceritakan kisah menyeramkan yang pernah ia
alami Kisah nyata Galih ini ia alami pada tahun 2010, saat ia
masih kuliah di salah satu Universitas di Kota Bandung.
Walaupun kejadian ini cukup lama telah berlalu, namun kisah
yang Galih alami ini cukup jelas terekam dalam ingatannya sampai saat ini.
Kejadian mengerikan yang Galih alami ini, terjadi di
salah satu rumah sakit yang berada di jalan Soekarno-Hatta Kota Bandung.
Kebetulan rumah sakit tersebut sangat besar dan strategis sehingga membuat
rumah sakit tersebut selalu ramai dikunjungi oleh banyak pasien.
Saat Galih masih kuliah ia menyewa kamar kos di daerah
Jatinangor, dan kejadian mengerikan ini bermula disini. Saat itu teman kos
Galih yang bernama Dika seketika keluar kamar dan tiba-tiba panik, waktu itu dika belum bilang pada kami kalau dia memang dalam keadaan sakit.
Langsung saja, Galih dan temannya yang lain penasaran dengan
apa yang terjadi dengan Dika. Akhirnya mereka menghampiri Dika dan menanyakan
apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Menurut penuturan Dika, ia melihat sosok pocong diatas
lemari pakaian dikamarnya. Sosok pocong itu menatap Dika dengan tajam, mukanya
hancur, hitam dan beraroma tidak sedap.
Seketika Galih dan teman kos yang lain mengecek kamar Dika,
namun Galih tidak menemukan ada apapun dalam kamar tersebut.
Mungkin Dika sedang bermimpi saat itu ucap Galih dalam hati.
Pada saat malam harinya Dika masuk ke kamar Galih dan menceritakan bahwa badannya dalam keadaan tidak enak, suhu tubuhnya panas dan dia merasa lemas, bahkan Dika sempat muntah beberapa kali. Saat itu juga
Galih berfikir bahwa apa yang dialami dika itu hanyalah halusinasi, efek dari penyakit yang dialami dika, kemudian si galih ini memutuskan untuk segera membawa Dika ke rumah sakit terdekat.
Kebetulan jarak antara rumah sakit dan kosan Galih tidak
terlalu jauh, setidaknya membutuhkan waktu 15 menit untuk menuju rumah sakit
tersebut.
Saat tiba di rumah sakit waktu menunjukan pukul 22:00, dan
Galih langsung menghubungi UGD agar Dika segera dapat penanganan.
Setelah Dika ditangani oleh dokter, Galih baru menyadari
bahwa keadaan rumah sakit saat itu tampak beda sekali jika dibedakan dengan
saat mereka datang pada waktu siang hari. Galih saat itu menunggu diruang
tunggu UGD dan sesekali melihat pasien yang lewat, ada yang meninggal hingga
pasien yang datang dengan kondisi fisik yang kurang baik.
Selama kurang lebih 2 jam ditindak, dokter saat itu
menyarankan agar Dika dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Karena Dika
harus mendapatkan perawatan lanjutan lagi dan menurut penuturan dokter, Dika
mengalami usus buntu dan harus segera dioperasi.
Mendengar hal tersebut Galih langsung menghubungi keluarga
Dika, dan keluarga Dika saat itu meminta agar Dika mendapatkan kamar VIP atau
satu kamar untuk satu orang saja. Namun sayang saat itu yang tersisa hanya
kamar biasa dengan jumlah pasien maksimal 2 orang.
Dari ruang UGD menuju kamar rawat inap yang ada dilantai 3,
Galih merasakan hawa yang aneh dan kurang enak menghampirinya. Hingga akhirnya
Galih sampai di kamar yang terletak dilantai 3 tersebut.
Saat itu, di kamar tersebut sudah ada pasien seorang
kakek-kakek yang ditemani oleh dua orang yang mungkin saja anak kakek tersebut. Galih langsung membereskan perlengkapan Dika, dan setelah semuanya
beres Galih menuju balkon untuk menghirip udara segar. “A, bade ngarokok?” Salah satu dari anak kakek tersebut
menyapa dan menawarkan rokok pada Galih saat itu.
Galih saat itu menolak rokok tersebut karena ia bukan
seorang perokok, kemudian setelah berkenalan anak dari kakek tersebut bernama
Dadan, akhirnya Galih terlibat obrolan yang cukup lama dengan Dadan.
Diketahui, Dadan sudah hampir 2 minggu menemani kakeknya
tersebut di rumah sakit. Karena penasaran Galih menanyakan mengenai sakit yang
diderita oleh kakek tersebut.
Dadan menceritakan bahwa secara medis kakeknya tidak
menderita sakit apapun, tapi bila dilihat langsung ia seperti orang yang sesak
nafas. Sesekali Galih melihat kearah Dadan, ia melihat mukanya
sangat pucat dan matanya terlihat lingkaran hitam seperti kelelahan. “A hati-hati jangan tidur kemalaman ya disini mah,” ucap
Dadan kepada Galih, perkataan tersebut nampak sedikit aneh bagi Galih. Galih saat itu tidak memperdulikan perkataan Dadan, waktu
sepertinya sudah tengah malam dan Galih masih ada di balkon kamar tersebut.
Sesekali Galih memperhatikan keadaan luar rumah sakit, suasana rumah sakit saat
itu sangat gelap, sepi dan yang terdengar hanya kicauan suara burung malam
saja. Akhirnya Galih memutuskan untuk kembali kedalam kamar, dalam
kamar tempat Dika dirawat kamarnya disekat, disamping masing-masing ranjang ada
sofa kecil yang dapat digunakan oleh penjaga pasien untuk beristirahat. Malam itu Galih tidak mengantuk sama sekali, sekitar pukul
01:30 dini hari Galih mendengar pintu kamar sebelah terbuka seperti ada yang
masuk. Dalam hati Galih berkata mungkin ada pasien baru yang masuk. Tidak lama kemudian, Galih mendengar ada suara rintihan
orang yang kesakitan. Dan sesekali minta tolong dengan suara yang lirih
mengatakan “tolong….tolong.. tolong saya…” karena penasaran Galih akhirnya
memberanikan diri melihat ke kamar sebelah.
Lorong rumah sakit saat itu sangat sepi, tidak ada aktifitas
apapun dan yang terlihat hanyalah kursi roda yang ada disamping kamar tersebut.
Galih perlahan jalan menuju kamar tersebut dan akhirnya ia sampai didepan pintu
kamar itu. Galih mencoba melihat melalui kaca kecil yang ada didepan
pintu kamar tersebut, ternyata di kamar tersebut ada satu pasien yang ditunggui
oleh satu orang saja. Tapi ada yang berbeda orang yang menemani pasien tersebut
berambut panjang sebahu, tidak rapih, dan seperti memakai daster panjang
berwarna putih. Saat itu Galih belum merasakan hal aneh apapun, Galih
memutuskan kembali kedalam kamar Dika. Tapi saat Galih berbalik dan melihat
kearah kursi roda yang awalnya ada didepan kamar, tiba-tiba saat itu kursi roda
berpindah beberapa meter dari posisi awal.
Galih mulai panik, karena ketika Galih melihat kearah kamar
sebelah Galih tidak mendengar suara kursi roda yang bergerak. Galih langsung
masuk kedalam kamar tapi ketika ia melewati ranjang kakek dari Dadan, Galih
tidak melihat siapapun di tempat tidur itu.
“Lho ko bisa kosong, kakek dan kedua anaknya dimana?” ucap
Galih dalam hati. Saat itu Galih hanya berfikir bahwa kakek sedang dipindahkan
keruang ICU, ketika ia sedang melihat ke kamar sebelah. Malam itu Galih mencoba untuk tidak memikirkannya, dan ia
pun tertidur karena sudah mengantuk.
Keesokan harinya, Galih dibangunkan dengan suara alarm hp.
Saat itu Galih langsung cuci muka dan lanjut mandi. Keadaan Dika pada pagi itu
ia terlihat cukup baik, dan Galih sempat mengobrol sedikit dengan Dika.
Ditengah obrolan Galih memutuskan untuk membeli sarapan di kantin rumah sakit. Saat berjalan menuju keluar, Galih melewati tempat tidur
yang awalnya ditempati kakek tapi tempat tidur tersebut kosong tidak ada
siapapun disitu. Setelah membeli sarapan dan kembali ke kamar Dika, Galih
masih belum melihat kakek dan 2 orang anaknya tersebut kembali ke kamar. Dalam
hati Galih berfikir kakek masih di ruang ICU.
Tidak lama setelah itu, Galih memutuskan untuk kembali ke
tempat kos. Karena jam 1 siang, Galih ada berkulihah dan akan kembali menunggui
Dika setelah kelas selesai. Kebetulan saat itu ada beberapa teman yang akan
menjenguk Dika juga di rumah sakit.
Setelah maghrib Galih kembali lagi ke rumah sakit untuk
menunggui Dika. Hari ini adalah hari kedua Galih menemani Dika di rumah sakit,
Galih melihat kakek ada di tempat tidurnya bersama kedua orang anaknya
tersebut. Kondisi kakek tersebut sama seperti semalam nampak sesak
nafas dan tidak berdaya. Ditambah saat melihat kedua anak kakek tersebut Galih
melihat muka mereka pucat.
Sekitar jam 22:00 teman-teman kos pamit pulang karena
kebetulan mereka ada kelas pagi saat itu. Sementara Galih lanjut menginap untuk
menunggui Dika. Seperti biasa ketika semuanya sudah kondusif, Galih pergi ke
balkon kamar kembali untuk sekedar melihat pemandangan disekitar.
Lalu Dadan kembali datang menghampiri Galih dengan pakaian
yang sama seperti kemarin. Dalam hati mungkin Dadan kehabisan baju sehingga
memakai baju yang sama hari itu. Tapi anehnya ketika Dadan datang dia menyapa Galih sama
persis seperti semalam, Dadan menyapa dengan menawari rokok. Kata-katanya sama persis tidak ada yang berbeda. Galih tidak
memerdulikannya ia kembali ngobrol dengan Dadan. Namun aneh obrolan Galih dan
Dadan juga sama persis seperti saat kemarin waktu pertama kali bertemu. Galih sempat berfikir mungkin saat itu ia sedang halu atau
kehilangan fokus, dan Dadan pamit ke kamar lagi dengan kata yang sama, “Jangan
tidur terlalu malam disini.”
Dengan ditemani secangkir kopi hitam, Galih melihat
pemandangan sekitar dari balkon. Sekitar jam 12 malam, dari kamar sebelah Galih
seperti mendengar suara dari seseorang. Disitu Galih mencoba memfokuskan
pendengaran, dan dari kamar sebelah Galih mendengar suara yang lirih dan jelas
seperti suara "hiii…..hiiii…..". sontak suara tersebut membuat
bulukuduk Galih merinding, seketika saat itu Galih langsung panik dan merasa
takut.
Perlahan Galih mulai memfokuskan kembali pendengarannya, dan
dalam hati Galih berkata mungkin ia salah dengar saat itu. Beberapa saat
kemudian terdengar kembali suara tersebut "hiiii…hiiii…hiii". Namun,
Galih saat itu tidak mau larut dalam ketakutan, kemudian Galih memutuskan mendekat
ke arah balkon kamar sebelah.
Dengan perasaan cemas dan tetap berhati-hati, perlahan Galih
melangkahkan kaki mendekati balkon kamar sebelah. Balkon kamar sebelah hanya
berjarak 1-2 meter dari tempat Galih, ia dapat melihat kondisi kamar sebelah
melalui jendela. Kamar sebelah nampaknya kosong tidak ada pasien yang sedang
dirawat inap. Lalu karena masih penasaran, Galih cek pintu kaca kamar
tersebut yang kebetulan sedikit terbuka, tirainya seolah-olah bergerak karena
tertiup oleh angin. Nampak jelas tidak ada orang di dalam kamar tersebut.
“Syukurlah g ada siapa-siapa mungkin aku tadi salah dengar,” ucap Galih dalam
hati.
Sejurus kemudian, ketika pandangan Galih menatap kembali
kearah jendela kamar tersebut Galih melihat ada sosok bayangan seperti bayangan
seorang wanita. Perawakannya tidak terlalu tinggi dan sosok tersebut berada
dibelakang tirai dan bayangan tersebut hanya diam tidak bergerak sama sekali. Hanya terlihat rambutnya saja yang berkibas karena tertiup
angin, Galih mencoba mendekati dan memfokuskan pandangan matanya, dan ketika
angin meniup tirai terlihat jelas wanita tua sedang berdiri menatap kearah
Galih.
Wajahnya nampak pucat, rambutnya terurai panjang dan
berwarna putih serta wanita tua tersebut memakai kemben. Lalu kelopak matanya
hitam sedang menatap tajam kearah Galih. Saat itu Galih benar-benar kaget,
hampir saja Galih terjatuh pada tepi batas balkon kemudian saat itu juga Galih
langsung kembali ke kamar dengan perasaan takut dan campur aduk.
Malam itu kamar yang ditempati oleh Dika terasa berbeda,
Galih tidak pernah merasakan perasaan takut seperti itu. Napas Galih tidak
beraturan serta keringat dingin bercucuran, Galih yang saat itu berusaha
mengontrol diri dengan mengatur nafas dan berdoa.
Lalu beberapa saat setelah Galih tenang, ia kembali
mendengar lagi suara “Galih…tolong saya ..tolong…” seketika bulu kuduk Galih
menjadi berdiri ia merinding ketakutan, kurang lebih 3 kali kalimat tersebut ia
dengar dengan jelas. Dalam hati Galih bertanya, siapa orang yang meminta tolong
kepadanya dan darimana orang tersebut tahu namanya. Dan saat itu juga Galih
keluar dari kamar berlari sejauh-jauhnya dari kamar tersebut.
Galih saat itu memutuskan untuk tidak tidur kemudian ia
mendatangi titik ramai, tepatnya di ruangan recepsionist. Lalu para suster yang
jaga melihat Galih dengan tatapan yang sangat aneh, Galih tidak berkata banyak
kemudian ia memperhatikan sekitar kemudian ia melihat tempat jaga perawat yang
berada dipojok lorong rumah sakit yang dekat dengan lift disitu Galih merasa
sedikit lebih nyaman. Jadi posisi ruang jaga tersebut dipaling pojok dan kamar
Dika ada disebalah kanan. Mungkin jarak antara ruang jaga tersebut sekitar 20
meter. Disitu Galih duduk namun pandangannya tetap tertuju kearah kanan yaitu
kamar sebelah yang tadi Galih melihat ada nenek tua.
Saat di ruang tunggu perawat Galih sempat tertidur sejenak
dan terbangun karena suara pintu lift yang terbuka. Galih berfikir saat itu ada
yang keluar dari lift tapi saat itu tidak ada seseorang yang keluar dari lift. Seseaat kemudian pintu lift kembali tertutup, dan beberapa
saat setelahnya terdengar kembali suara pintu lift yang terbuka, namun sama
seperti tadi tidak ada seseorang yang keluar dari lift tersebut. Aneh memang
dan tidak masuk akal sama sekali ucap Galih dalam hati.
Tidak lama setelah itu terdengar suara adzan shubuh, Galih
yang masih terjaga saat itu memberanikan diri untuk turun ke lobi untuk
menunaikan sholat shubuh. Akhirnya dihari ketiga, Galih memutuskan untuk rehat
sejenak dikos dan tidak menjaga Dika.
Kemudian dihari keempat Galih kembali ke rumah sakit lagi,
dan semoga kali ini tidak terjadi sesuatu yang aneh lagi harap Galih.
Setelah maghrib, Galih sampai di rumah sakit dan langsung
menghampiri suster yang sedang berjaga untuk menanyakan perkembangan kesehatan
Dika. Lalu setelah itu Galih masuk ke kamar untuk menemui Dika.
Pada malam itu kakek dan kedua orang anaknya masih dengan
kondisi yang sama, mukanya pucat, nafasnya tersendat dan masih memakai pakaian
yang sama juga.
“Dik gimana keadaan lu sekarang? Tadi nyokap lu nelfon gw
transfer duit buat kebutuhan lu,” tanya Galih pada Dika. Kemudian Dika
mengatakan bahwa keadaanya saat ini sudah jauh lebih baik dan Dika juga
mengucapkan terima kasih pada Galih, lalu mereka kemudian mengobrol sebentar. Setelah mengobrol dengan Dika, Galih kemudian ke tempat
suster jaga karena ingin menanyakan total tagihan perawatan rumah sakit Dika,
setelah keluar kamar Galih bertemu dengan Dadan, “Eh kang Dadan kumaha eta si
kakek tos sehat?” Tanya Galih pada Dadan
Namun saat itu Dadan tidak menjawab pertanyaan Galih ia
kemudian hanya menunduk dengan wajah yang sangat pucat. Galih kemudian menutup pintu dan berjalan kearah suster
jaga, saat itu Galih dan suster-suster sempat mengobrol santai, hingga Galih
menceritakan kejadian aneh yang Galih alami selama di rumah sakit ini.
Salah satu suster senior yang ada di tempat jaga bernama Mba
Nawang, ia terlihat serius mendengar cerita Galih dari hari pertama Galih
menjaga Dika sampai malam ini.
“Mba disini itu serem amat ya,” tanya Galih pada Mba Nawang. Namun Mba Nawang tidak membalas ucapan Galih dan hanya
melontarkan senyuman saja pada Galih. Lalu Galih menanyakan tentang kakek yang
satu kamar dengan Dika kepada Mba Nawang. Lalu kemudian Mba Nawang memberi tahu
bahwa kakek itu menderita sakit paru-paru dan ia terlihat selalu sesak. “Iya Mba tadi juga saya liat si kakek masih sesak, dan
anaknya juga kelihatan murung banget. Terus yang saya heranin kalau siang saya
selalu tidak lihat mereka, pindah ke ruang ICU atau gimana,” tanya Galih pada
Mba Nawang. Namun kembali Mba Nawang tidak menjawab pertanyaan Galih. Disitu Galih melihat perawat lain seolah berbisik mengatakan
sesuatu atas cerita Galih tadi. “A, aa yakin lihat si kakek dan kedua ananknya
di kamar?” “Iya Mba barusan kan saya dari kamar dan lihat mereka ada
kok,” jawab Galih. Lalu kemudian Mba Nawang masih diam dan tidak berkata
apapun. “Mas saya kasih tau tapi jangan kaget ya,” ucap Mba Nawang.
Akhirnya Mba Nawang buka suara dan rasa penasaran Galih akan terjawab.
Menurut penuturan Mba Nawang kakek yang sekamar dengan Dika
telah meninggal 2 hari sebelum Dika masuk rumah sakit tersebut. Dengan perasaan yang terkejut, Galih merasa tidak percaya
dengan apa yang dikatakan Mba Nawang. Bagaimana bisa sedangkan selama Galih
menunggui Dika, setiap malam Galih selalu melihat kakek dan kedua anaknya
tersebut. Dan tadi juga sebelum menghampiri suster Galih masih melihat kakek
tersebut masih ada.
Mba Nawang kemudian memberikan bukti yang menunjukan bahwa
kakek tersebut sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Kemudian Galih masih
penasaran dengan siapa Dadan yang menunggui kakek tersebut. Sesaat kemudian Mba Nawang melanjutkan ceritanya, lalu Mba
Nawang menceritakan bahwa kedua anak kakek tersebut tidak lama setelah kakek
meninggal mereka bunuh diri loncat dari balkon.
Saat itu juga Galih seakan merasa apa yang dialaminya sangat
mengerikan, selama ini ia berfikir yang sering mengajak ngobrol Galih di balkon
adalah manusia namun ternyata hantu.
Kemudian Galih kembali bertanya kepada Mba Nawang tentang
kamar sebelah, karena setiap malam Galih selalu mendengar suara aneh, dan
nenek-nenek dengan muka yang seram dan berdiri dibelakang tirai.
Lalu Mba Nawang menceritakan bahwa kamar tersebut kosong tidak
ada pasien yang dirawat inap di kamar tersebut. Namun beberapa bulan yang lalu
memang ada pasien yang dirawat di kamar itu tapi kemudian meninggal.
Dulu pasien tersebut menurut penuturan Mba Nawang dijaga
oleh ibunya yang sudah sepuh, setelah anaknya meninggal ibu tersebut langsung
drop dan dirawat juga di kamar itu tapi tidak lama kemudian ibu tersebut
meninggal.
Malam itu, juga Galih meminta kepada pihak rumah sakit agar
Dika pindah kamar. Lalu kemudian dengan dibantu Mba Nawang akhirnya Dika mendapatkan
sebuah kamar yang berada dilantai 2. Pada saat itu juga Galih langsung membereskan perlengkapan
di kamar lama Dika dan memberitahukan kepada Dika bahwa akan pindah kamar. Perlengkapan sudah beres, Dika sudah siap untuk pindah
kamar. Dan ketika Galih akan menutup pintu kamar Galih melihat dari arah
jendela Dadan tersenyum kearah Galih dan Dika. Dadan tersenyum dengan wajah
pucat dan lingkar matanya hitam.
Tidak ingin larut dalam ketakutan, Galih dan Dika langsung
meninggalkan kamar tersebut dan menuju lantai dua yang merupakan posisi kamar
baru Dika. Untungnya menurut Galih dilantai 2 nampaknya biasa saja, ia
tidak merasakan sesuatu yang aneh, saat itu di kamar hanya ada Dika dan Galih
saja.
Galih saat itu sengaja tidak menceritakan hal yang telah
menimpanya kepada Dika, bahkan sampai pada akhirnya Dika meninggal dunia Dika tidak tahu cerita seram yang Galih alami. Dan sehari setelah
Dika meninggal dunia Galih memimpikan Dika. Ia bermimpi bertemu dengan Dika
dalam mimpi wajah Dika tampak murung dan pucat, Galih bertanya kenapa dan apa
yang terjadi kepada Dika dalam mimpinya tersebut.
Tapi saat itu Dika tidak menjawab pertanyaan Galih, kemudian
beberapa hari setelah mimpi tersebut, Galih kembali memimpikan Dika lagi. Dalam
mimpi kali ini Dika terlihat sedikit lebih ceria dan wajahnya tidak terlihat
murung, dan Galih berharap semoga itu pertanda baik bahwa keputusannya untuk tidak menceritakan kisah horror yang ia alami di rumah sakit itu kepada temannya yang memang sakit parahitu adalah keputusan yang benar dan Galih memang selalu mengirimkan doa pada Dika, Galih berharap semoga Dika tenang di
alam sana.